logo web

Dipublikasikan oleh Iwan Kartiwan pada on .

Keluarga Besar Dharmayukti Karini PTA Makassar Gelar Acara Halal bi Halal

Momentum bulan Syawal pasca puasa Ramadhan menjadi momen penting yang tidak pernah terlewatkan di kalangan umat Islam dalam upaya membangun penguatan Silaturrahim. Berkaitan dengan hal tersebut, keluarga besar ibu-ibu Dharmayukti Karini Pengadilan Tinggi Agama Makassar menggelar acara Silaturrahim yang dikemas dalam bentuk Halal bi Halal pada hari Jumat 29 Agustus 2013 bertempat di Aula Kantor Pengadilan Tinggi Agama Makassar.

Kegiatan Halal bi Halal tersebut di hadiri oleh isteri Ketua Pengadilan Tinggi Agama Manado, ibu-ibu Hakim dan Pegawai Pengadilan Tinggi Agama Makassar, Ibu-ibu Hakim dan Pegawain Purnabhakti Pengadilan Tinggi Agama Makassar serta isteri-isteri Ketua dan Panitera/Sekretaris Pengadilan Agama se-Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Agama Makassar.

Ketua Kerukunan Keluarga Pengadilan Tinggi Agama Makassar, Ny. Hj. St. Nuraeni Alimin dalam sambutannya mengatakan bahwa, salah satu program rutin Dharmayukti Karini baik di tingkat Cabang, tingkat Daerah maupun yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Pengadilan Tinggi Agama Makassar adalah melakukan pertemuan rutin setiap bulannya. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjalin hubungan silaturrahim dan mempererat ukhuwah di antara ibu-ibu anggota Dharmayukti Karini.

Lebih lanjut Ny. Hj. St. Nuraeni Alimin mengungkapkan bahwa pertemuan hari ini kita rangkaikan dengan acara Halal bi Halal, karena momentumnya sangat tepat karena baru saja kita selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan dan lebaran idul fitri 1 Syawal 1434 H. Sekalipun kita pahami bahwa silaturrahmi itu bukan hanya kita laksankan di bulan Syawal, tetapi harus dilaksanakan terus menerus selama kita masih hidup di dunia ini. Oleh karena ini, saya mengajak kepada kita semua untuk memanfaatkan kegitan Halal bi Halal ini untuk saling maaf memaafkan antar satu dengan yang lain, tegasnya.

Sementara yang tampil menyampaikan ceramah Halal bi Halal, Drs. Muhammad Amin, MA (Staf Sub Bagian Kepegawaian ) Pengadilan Tinggi Agama Makassar. Dalam ceramahnya, beliau menjeskan bahwa pada bulan Ramadhan yang lalu, ibarat kita melakukan pendakian spiritual untuk menuju ke titik puncak kemulian.

Selama dalam pendakian spiritual, tradisi-tradisi positif sebulan penuh di bulan ramadhan mengalami peningkatan yang cukup signifikan di kalangan umat Islam. Misalnya, Shalat berjama’ah terjaga dengan baik, tadarrus al-Qur’an menggema setiap saat baik di masjid-masjid maupun di kantor-kantor, infaq sedeqah untuk berbagi kepada yang tak mampumeningkat tajam, semangat silaturrahim dan ukhuwah betul-betul membumi, dan lain-lain.

Momentum Halal bi Halal hari ini, konteksnya adalah untuk melakukan evaluasi, apakah tradisi-tradisi positif selama bulan Ramadhan yang lalu masih bertahan sampai hari ini, ataukah sudah lowbat seperti lowbatnya baterai handpon, seiring dengan kepergian bulan suci Ramadhan. Pertanyaan ini, jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Di samping itu juga, acara Halal bi Halal ini substansinya adalah untuk membangun peningkatan kualitas hubungan silaturrahim dan ukhuwah di antara sesama keluarga besar Pengadilan Tinggi Agama Makassar.

Menurut Muhamamd Amin, yang sebelumnya pernah bertugas di Pengadilan Agama Makale selama kurang lebih tujuh tahun menjelaskan bahwa ada dua dimensi dasar hubungan yang harus selalu terjaga dan terpelihara dalam kehidupan kita, kapan dan di manapun saja kita berada dan dalam suasana apapun yang kita hadapi. Kedua dimensi dasar hubungan tersebut adalah ".حبل من الله و حبل من الناس" Penguatan dimensi حبل من الله pada bulan ramadhan yang lalu, mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Girah dan gairah umat Islam untuk menambah kualitas dan kuantitas ibadahnya kelihatan menggema dan menggebu di mana-mana. Shalat lima waktu dalam berjama’ah sangat ramai kelihatan di masjid-masjid, Qiyamul lail berjalan secara ruitinitas, Tadarrus al-Qur’an menggema di mana-mana, dzikir dan doa menjadai senandung kerinduan setiap saat. Begitu pula حبل من الناس begitu mencair dalam bulan ramadhan. Semangat silaturrahim dan ukhuwah begitu sangat kental, menyatu dalam sebuah kebersamaan yang sangat utuh.

Lebih lanjut, Muhammad Amin mengutip salah satu hadits Nabil yang berbunyi:

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته و تقواه تزيد و عن المعاص بعيد

“Bukanlah Ied itu bagi orang yang berpakaian baru, akan tetapi Ied itu adalah untuk orang yang ta’atnya dan taqwanya bertambah dan menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan”.

Dengan demikian orang-orang yang ta’at dan taqwanya bertambah, juga orang yang dapat menjauhi kemaksiatanlah yang dikategorikan sebagai orang-orang yang sukses dalam menjalani ibadah Ramadhan. Di samping hadits tersebut di atas, beliau juga mengutip Firman Allah SWT dalam surat Al A’la ayat 14 dan 15 :

قد أفلح من تزكي ۞ وذكر اسم ربه فصلى

"Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan ingat nama Allah, lalu dia shalat".

Menurut keterangan dari ayat ini, tanda-tanda orang yang mendapat kemenangan di bulan Ramadhan selama melakukan puasa adalah, pertama: Selalu mensucikan diri dari segala bentuk kemaksiatan, kejahatan, kedzhaliman , kesombongan, kemunafikan, kemungkaran, rakus harta kekayaaan dan sebagainya. Kedua: Selalu melakukan dzikrullah, baik sesudah shalat maupun di luar waktu shalat. Karena dengan dzikir inilah manusia akan bersih hatinya, tenang dan selalu terkontrol tidak mudah terjerumus dalam kesesatan. Ketiga: Selalu menegakkan shalat, terutama shalat wajib lima waktu disamping shalat-shalat sunnah lainnya dan juga menjauhi hal-hal yang menjadi penyebab ditolaknya shalat kita.

Pada bagian akhir ceramahnya, Muhammad Amin mengharapkan kiranya bagi yang merasa mempunyai kesalahan dengan orang lain, janganlah segan-segan untuk minta maaf dan ridhanya, sebab sekecil apapun nilai kesalahan akan dituntut di hadapan Allah, Hakim Yang Maha Adil, bila belum kita mintakan maaf dan ridhanya dari orang yang bersngkutan. Karena itu janganlah sekali - kali meremehkan kesalahan yang pernah kita perbuat pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Segeralah minta maaf, lebih-lebih pada momen-momen yang tepat seperti ini.

Sebaliknya bila kita dimintai maaf oleh yang pernah berbuat kesalahan dengan kita, janganlah berkeras hati, angkuh pendirian , kaku, tidak mau memaafkan orang lain. Sifat tercela seperti itu hendaknya lekas dibuang jauh-jauh. Allah SWT saja mau memaafkan kesalahan hambanya sebesar apapun, tapi justru kenapa kita tidak bisa. Janganlah kita merasa sok suci bersih, marilah sama-sama kita sadari bila orang lain bisa melakukan kesalahan terhadap kita, maka tidak menutup kemungkinan kita juga suatu saat bisa berbuat salah kepada orang lain.

Hubungi Kami

Gedung Sekretariat MA (Lt. 6-8)

Jl. Jend. Ahmad Yani Kav. 58 ByPass Jakarta Pusat

Telp: 021-29079177
Fax: 021-29079277

Email Redaksi : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Email Ditjen : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Lokasi Kantor

 Instagram  Twitter  Facebook

 

Responsive Voice