Tujuh Golongan Mulia, Kunci Meraih Derajat Tinggi di Sisi Allah SWT
Bandar Lampung, pta-bandarlampung.go.id – Peningkatan kualitas spiritual dan integritas moral aparatur Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Bandar Lampung menjadi fokus utama dalam Pembinaan Mental yang diselenggarakan pada Senin, 24 November 2025, bertepatan dengan 3 Jumadil Akhir 1447 Hijriyah. Bertempat di Aula PTA Bandar Lampung, kegiatan yang bertujuan memantapkan landasan keagamaan dan etos kerja ini menghadirkan Hakim Tinggi, Drs. M. Danil, M.A., sebagai penyaji materi utama.

Dalam paparannya yang mendalam, Drs. M. Danil, M.A., langsung menyoroti inti dari kehidupan seorang Muslim yang berkarakter, mengambil tema sentral mengenai "Tujuh Orang yang Akan Meraih Derajat Tinggi di Sisi Allah SWT". Materi ini secara tajam relevan dengan tugas dan fungsi aparatur peradilan yang dituntut memiliki hati yang bersih dan lisan yang terjaga dalam menegakkan keadilan.

Pembinaan mental ini secara khusus menekankan bahwa upaya meraih derajat mulia tersebut sangat dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola diri dalam interaksi sosial dan profesional. Poin penting yang digarisbawahi oleh narasumber adalah pentingnya menjaga lisan dari kebiasaan buruk seperti mencari-cari kesalahan orang lain dan menyebarkan aib mereka. Seorang yang bertakwa dan berintegritas adalah mereka yang mampu menjaga hati dari penyakit dengki dan dendam, karena sifat-sifat negatif ini secara langsung memengaruhi kehidupan, kinerja, dan kesehatan mental. Integritas dalam bekerja dan berinteraksi sosial hanya dapat tercipta dari hati yang lapang dan lisan yang terkontrol.

Lebih lanjut, Drs. M. Danil, M.A., menjabarkan lima prinsip esensial yang harus menjadi pegangan hidup setiap aparatur peradilan untuk mencapai kebaikan paripurna: Pertama, nilai agama harus dimiliki dan diinternalisasi sebagai fondasi dalam setiap tindakan, baik dalam urusan pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Kedua, pentingnya saling menghargai antar sesama rekan kerja maupun pihak berperkara, menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan profesional.
Ketiga, berupaya mencari kehidupan dan rezeki yang baik (halal), memastikan bahwa setiap hasil yang diperoleh adalah berkah dan terhindar dari syubhat. Keempat, mengamalkan hidup dengan sederhana, menjauhi gaya hidup berlebihan yang dapat menjerumuskan pada praktik tidak terpuji. Kelima, saling berkaca diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain, sebuah refleksi diri yang merupakan ciri kedewasaan mental dan spiritual.
Beliau menutup pembinaan mental dengan menegaskan bahwa tidak iri dan tidak dendam adalah ciri utama orang yang bertakwa, yang pada gilirannya akan sangat memengaruhi kualitas kehidupan dan mental. Pembinaan mental ini, sebagaimana tujuan utamanya, berfungsi sebagai wadah untuk memperkuat mentalitas, spiritualitas, dan integritas moral seluruh pegawai PTA Bandar Lampung. Dengan hati yang terjaga dan lisan yang terkontrol, diharapkan aparatur peradilan dapat melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum yang adil, jujur, dan berakhlak mulia, sehingga setiap pekerjaan yang dilakukan bernilai ibadah dan berkontribusi nyata dalam mewujudkan peradilan yang agung.
