Wejangan Apel Senin Pagi di PA Krui

Liwa|www.pa-krui.go.id
Teriknya sinar matahari pagi hari ini di kota Liwa, Lampung Barat tak menyurutkan semangat seluruh pegawai PA Krui untuk tetap mengikuti pelaksanaan kegiatan apel Senin (30/09/2013).
Seperti biasanya apel kali ini pun dilaksanakan di halaman depan kantor Pengadilan Agama Krui. Bertindak sebagai pembina apel yaitu Alamsyah, SHI., SH., MH (Hakim PA Krui) dan dikomandoi oleh Yusi Irawan (Jurusita PA Krui), sebagai pemimpin apel.
Dalam amanatnya, pembina apel mengangkat satu cerita inspiratif yang diambil dari buku “Makelar Rezeki” yang ditulis Jamil Azzaini. Terdapat kisah tentang seorang raja dan 3 (tiga) pembantunya.
Dimana sang raja memerintahkan kepada 3 pembantunya untuk mengumpulkan buah di kebun istana untuk dimasukkan dalam 3 karung yang disediakan. Usai menerima perintah, ketiga pembantu raja tersebut bergegas berangkat ke kebun istana, masing-masing mulai bekerja mengumpulkan buah, untuk memenuhi permintaan sang raja.
Dalam melaksanakan titah dari sang raja, ketiga pembantu tersebut melaksanakannya dengan cara yang berbeda-beda pembantu pertama dengan semangat mulai memilih dan mengumpulkan buah-buah yang terbaik untuk dipersembahkan kepada sang raja, dia memanjat ke atas pohon yang tinggi demi dapat mengambil buah yang manis dan matang.
Pembantu kedua melaksanakan titah tersebut dengan sekehendak hatinya, dia tidak mau bersusah payah memanjat pohon, dia hanya memunggut dan mengumpulkan buah yang berjatuhan disekitar pohon, hingga buah yang terkumpul adalah buah-buahan yang sudah kotor bercampur tanah bahkan sebagian adalah buah yang sudah busuk.
Pembantu ketiga dengan pemikirannya yang curang, karena dia beranggapan raja tidak akan mungkin memeriksa karung hasil yang dibawa, maka itu dia memasukkan dedaunan dan ranting-ranting pohon memenuhi seluruh karung miliknya.
Usai terkumpul, ketiga pembantu raja itu pun segera kembali ke istana menghadap kepada sang raja dengan menyerahkan 3 karung buah hasil dari pekerjaan mereka.
Kemudian sang raja memerintahkan kepada ketiga pembantunya untuk memakan apa yang ada di dalam karung, hasil yang mereka kumpulkan dan kerjakan. “Dari cerita singkat tadi dapat diketahui dengan jelas siapa yang paling berbahagia dan siapa yang paling sengsara dari ketiga pembantu raja tersebut”, ujar pembina apel sembari menutup ceritanya.
Jika dibawa dalam kehidupan kita, kisah tadi hendaknya bisa menjadi sebuah pemahaman dan perenungan untuk kita. Apapun pekerjaan atau tugas yang diberikan dan yang menjadi tanggung jawab kita, hendaknya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan usaha yang maksimal, karena hasil akhir dari suatu pekerjaan akan kembali pada kita juga yang kan merasakan manfaatnya.

Satu hal lagi, kita juga harus mampu menanamkan dalam kehidupan sehari-hari kita, bahwa setiap manusia itu dibekali dengan potensi dan kelebihan masing-masing dalam dirinya. Yang menjadi permasalahannya adalah, bagaimana cara kita memunculkan dan mengembangkan potensi dan kelebihan tersebut untuk kita gunakan dan nantinya kan memberi manfaat. Baik itu manfaatnya untuk kita sendiri, sesama maupun bagi organisasi tempat kita bekerja.
“Kisah ini hendaknya dapat menjadi motivasi bagi kita, khususnya pegawai PA Krui untuk mampu mengembangkan diri dengan semua kelebihan yang diberikan, agar nantinya kan mampu membentuk kita menjadi pribadi yang berguna bagi agama, masyarakat dan negara”, ujar beliau mengakhiri amanatnya. Kegiatan apel Senin pagi dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Drs. H. Isep Sadeli (Panitera Pengganti PA Krui) dan diamini oleh seluruh peserta apel yang hadir. (Tim Redaksi PA Krui)
